Kebangkitan Dua Dunia: Analisis Mendalam Tales of Arise
Tales of Arise bukan hanya game RPG biasa. Ia adalah manifesto tentang perjuangan, pembebasan, dan transformasi. Dirilis sebagai bagian dari seri legendaris Tales, game ini memperkenalkan banyak elemen baru: visual yang menawan, sistem pertarungan yang agresif dan dinamis, serta narasi yang jauh lebih dalam dibanding pendahulunya.
Dengan latar dua planet yang saling bertentangan, Tales of Arise mengajak pemain menjelajahi konflik multidimensi—tidak hanya antara dua bangsa, tapi juga dalam hati dan pikiran tiap karakter. Artikel ini mengupas tuntas elemen-elemen penting game ini, mulai dari alur cerita, gameplay, karakter, hingga kritik terhadap ekspansi kontennya.
Dunia yang Terbelah: Dahna dan Rena
Perbudakan dan Penjajahan
Selama 300 tahun, bangsa Renan menjajah planet Dahna. Dengan teknologi dan kekuatan sihir (astral artes) yang jauh lebih canggih, mereka menguasai sumber daya dan memperbudak penduduk Dahna. Rakyat Dahna hidup dalam kegelapan, terhisap energinya untuk menopang sistem kompetisi brutal antar pemimpin Renan.
Crown Contest dan Lima Realm
Pemerintahan Rena dibagi menjadi lima wilayah: Calaglia, Cyslodia, Elde Menancia, Mahag Saar, dan Ganath Haros. Masing-masing dikuasai oleh seorang “Lord” yang bersaing mengumpulkan energi astral dari para budak. Pemenangnya berhak menjadi Sovereign—gelar tertinggi dalam struktur penguasa Rena.
Namun, di balik perebutan kekuasaan itu, ada kebenaran yang lebih mengerikan: seluruh sistem Crown Contest hanyalah alat dari ras alien yang lebih tinggi untuk menguras kehidupan kedua planet.
Karakter Utama: Alphen dan Shionne
Alphen — Sang Pahlawan Tanpa Rasa Sakit
Alphen adalah seorang Dahnan yang kehilangan ingatan dan tak bisa merasakan sakit. Julukannya: “Iron Mask.” Ketidakmampuan merasakan sakit membuatnya bisa menggunakan Blazing Sword—sebuah senjata api yang begitu kuat hingga dapat membakar siapa pun yang mengendalikannya. Tapi kekuatannya dibayar mahal: ia terluka setiap kali bertarung.
Alphen memulai perjalanan bukan hanya untuk membebaskan rakyat Dahna, tapi juga menemukan siapa dirinya sebenarnya.
Shionne — Kutukan Berduri
Shionne berasal dari Rena, tapi bukan sekutu penguasa. Ia dikutuk dengan “Thorns”—semacam medan listrik yang menyakiti siapa pun yang menyentuhnya. Dengan misinya sendiri yang misterius, Shionne bersekutu dengan Alphen untuk menggulingkan para Lord. Hubungan mereka penuh gesekan, tapi perlahan tumbuh jadi chemistry yang dalam dan emosional.
Perjalanan keduanya bukan sekadar melawan musuh eksternal, tapi juga menembus batas antara dua ras yang saling membenci.
Sistem Pertarungan: Dinamis dan Penuh Gaya
Tales of Arise memperkenalkan versi terbaru dari Linear Motion Battle System. Pertarungan kini lebih agresif, cepat, dan bergantung pada kombo antar-karakter. Ada banyak fitur baru:
-
Boost Attack: Serangan unik tiap karakter untuk melumpuhkan tipe musuh tertentu.
-
Boost Strike: Serangan pamungkas kolaboratif antara dua karakter.
-
Evade dan Counter: Sistem dodge dengan timing yang tepat membuka peluang counter mematikan.
Pertarungan tidak lagi sekadar repetitif. Ada dinamika real-time yang memaksa pemain berpikir cepat, sambil tetap strategis. Dan yang paling penting: pertarungan ini sangat sinematik—tiap serangan akhir terasa seperti klimaks film anime.
Narasi: Pembebasan, Trauma, dan Identitas
Menjatuhkan Para Lord
Perjalanan Alphen dan Shionne dimulai dari Calaglia, wilayah gurun yang penuh bara api, hingga Ganath Haros yang penuh badai dan penderitaan. Tiap Lord yang mereka hadapi memiliki cara berbeda dalam mengontrol rakyat, mulai dari tirani terbuka hingga manipulasi psikologis.
Setiap wilayah bukan hanya arena pertarungan, tapi juga cermin kondisi sosial dan psikologis yang kompleks. Pemain dihadapkan pada dilema moral, pengkhianatan, bahkan tragedi massal.
Mengungkap Rahasia Rena
Saat akhirnya mereka mencapai planet Rena, terungkap bahwa para penguasa sejati bukanlah bangsa Renan seperti Shionne, tapi makhluk yang disebut Helganquil. Mereka memanipulasi umat manusia untuk menciptakan sistem penyerapan energi hidup demi mempertahankan eksistensi mereka sendiri.
Dari sinilah konflik berubah. Tujuan utama tak lagi hanya pembebasan Dahna, tapi penyelamatan seluruh umat manusia dari siklus kehancuran.
Visual dan Atmosfer
Unreal Engine 4 menjadi tulang punggung grafis game ini. Desain dunianya tak sekadar indah, tapi artistik. Tiap wilayah punya ciri khas atmosfer:
-
Calaglia: Dunia merah terbakar.
-
Cyslodia: Negeri es dan pengawasan.
-
Elde Menancia: Alam subur penuh kemewahan.
-
Mahag Saar: Kota teknologi gelap dan perjuangan rakyat.
-
Ganath Haros: Tanah hujan dan kehancuran.
Shader cat air khas anime menjadikan visual terasa seperti lukisan hidup. Adegan sinematik yang diproduksi oleh studio animasi terkenal menambahkan kualitas emosional tinggi pada narasi.
Sisi Emosional: Persahabatan, Cinta, dan Luka
Salah satu kekuatan utama Tales of Arise terletak pada interaksi karakter. Tidak hanya Alphen dan Shionne, tapi juga Law, Rinwell, Dohalim, dan Kisara—semuanya punya cerita latar dan konflik pribadi yang berlapis.
-
Law dan Rinwell: Mewakili generasi muda yang terluka oleh kebohongan dan kehilangan keluarga.
-
Dohalim dan Kisara: Eks-penguasa dan pengawal yang belajar memahami makna pengampunan.
Relasi ini dibangun melalui cutscene, pembicaraan kamp, dan skit klasik khas seri Tales. Setiap interaksi menambah kedalaman emosional dan membuat pemain benar-benar peduli pada nasib mereka.
Ekspansi: Beyond the Dawn
Cerita Tambahan
Setahun setelah cerita utama, dunia menghadapi tantangan baru. Perdamaian ternyata tidak serta-merta menyatukan dua ras yang telah ratusan tahun berkonflik. Diskriminasi, trauma, dan ketidakpercayaan tetap membayangi.
Masuklah karakter baru: Nazamil, putri hasil hubungan Renan-Dahnan. Ia menjadi simbol konflik identitas. Pemain kembali harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan berat: Apakah benar semua sudah selesai? Atau ini hanya awal dari pertempuran baru?
Kritik dan Pujian
Ekspansi ini memicu reaksi beragam. Di satu sisi, ia memperluas semesta dan memperdalam konflik. Tapi di sisi lain, sebagian pemain mengkritik pacing lambat, banyaknya side quest tak bermakna, dan harga yang dianggap terlalu mahal.
Namun, bagi yang benar-benar terikat dengan karakter dan cerita Tales of Arise, ekspansi ini menjadi pelengkap emosional yang memuaskan.
Monetisasi dan DLC: Antara Nilai Tambah dan Komersialisasi
Tales of Arise hadir dalam beberapa versi: Standard, Deluxe, dan Ultimate. Setiap versi membawa bundel kosmetik, aksesoris, bahkan XP booster.
Ada pro-kontra dalam pendekatan ini:
-
Positif: Pemain bebas memilih. Tidak ada konten utama yang dikunci di balik paywall.
-
Negatif: Terlalu banyak DLC kosmetik dan booster sejak hari pertama, yang membuat sebagian pemain merasa pengalaman dimonetisasi secara agresif.
Meski begitu, kualitas inti game tetap solid. DLC bersifat opsional dan tidak merusak esensi cerita utama.
Penerimaan Global
Tales of Arise adalah game dengan pencapaian besar:
-
Terjual lebih dari 1 juta kopi hanya dalam waktu seminggu.
-
Mencapai lebih dari 3 juta kopi dalam dua tahun.
-
Dinobatkan sebagai Best RPG dalam berbagai ajang penghargaan.
-
Dipuji karena keberanian mengubah formula lama, tanpa mengorbankan identitas seri.
Kritikus menilai game ini sebagai revitalisasi sukses untuk franchise Tales, bahkan menyebutnya sebagai titik awal baru yang lebih dewasa dan relevan.
Esensi Personal: Game sebagai Cermin Diri
Di balik pertarungan dan petualangan, Tales of Arise berbicara tentang identitas. Tentang bagaimana trauma masa lalu membentuk kita. Tentang bagaimana penderitaan bisa menjadi bahan bakar perjuangan. Tentang bagaimana orang yang berbeda bisa saling memahami dan menciptakan sesuatu yang baru.
Semangat ini tak jauh berbeda dengan filosofi dalam dunia nyata, termasuk dalam ekspresi personal seperti mode dan gaya hidup. Salah satu merek yang merefleksikan hal ini adalah Togelin—sebuah brand yang menekankan kualitas, ketegasan identitas, dan keberanian tampil berbeda. Seperti karakter Alphen dan Shionne, brand ini menunjukkan bahwa perjuangan untuk menjadi diri sendiri adalah sesuatu yang bernilai.
Penutup: Perjalanan yang Layak Dikenang
Tales of Arise adalah pengalaman RPG yang meninggalkan kesan mendalam. Ia bukan hanya soal membunuh monster atau menyelesaikan quest. Ini adalah kisah tentang pemberontakan terhadap takdir, penyembuhan luka lama, dan pencarian makna dalam dunia yang porak-poranda.
Game ini bukan hanya menyuguhkan cerita yang kuat dan visual memukau, tapi juga mencerminkan kondisi manusia secara universal. Tentang perpecahan, penyatuan, dan harapan.
Bagi penggemar JRPG maupun pemain baru, Tales of Arise adalah judul yang tak boleh dilewatkan. Ia bukan sekadar game, tapi sebuah pengalaman naratif yang kuat dan relevan. Seperti filosofi yang diusung Togelin, Arise mengajarkan kita bahwa menjadi otentik, meski penuh luka, tetap merupakan pilihan paling berani.
Baca Juga : Gran Turismo 6 – Puncak Realisme Balapan di Era PS3 – fpdesigners.com-artikel game seru terkini tahun 2025